Tuesday, August 24, 2004

4

Diet yang menyembuhkan

Di tahun ketiga aku di universitas, aku mulai mencoba untuk menemukan diriku sendiri. Suatu kali aku menelepon ayahku. Salah satu yang kutanyakan waktu itu adalah keadaanku sewaktu aku kecil.
"Mereka mengira kamu penderita autis," kata ayahku.
Aku tidak tahu apa arti autistik yang sesungguhnya. Aku hanya berpikir bahwa itu berarti menarik diri. Aku yang mengira diriku gila, kemudian membenamkan diri di antara buku psikologi untuk mengetahui secara pasti kelainan yang kuderita. Tidak ada satu pun buku yang menyinggung "autisme", dan seperti sebelumnya, aku tetap berada di dalam kegelapan.
Tahun terakhir universitas tiba. Aku lulus dengan nilai baik, dan dihadapkan pada ketidak-pastian akan langkah-langkah yang harus dilakukan setelah kuliah selesai.
Tesisku bertopik "Penyimpangan dan Normalitas", bahannya diambil dari kehidupan banyak orang, sebagian dari orang-orang seperti aku, orang-orang yang pernah hidup di jalanan. Tesisku steril dari emosi, layaknya lemari peralatan seorang ahli bedah. Secara khas tesis itu meng-gambarkan pemisahanku dengan "dunia" dan dengan setiap bagian diriku, dan membiarkan karakter-karakterku berinteraksi dengannya.
Aku kemudian menjadi karyawan toko yang menjual peralatan teater. Carol yang ramah dan pandai bergaul, membuat penjualan toko meningkat dua kali lipat. Meski demikian aku sering diingatkan untuk lebih memerhatikan pembeli daripada membereskan barang-barang dagangan.
Seluruh atap toko dihiasi lampu neon. Penyakitku makin parah. Bahkan tidak mampu mengangkat lenganku. Aku mengenakan kacamata hitam untuk mencegahku tertidur karena efek cahaya. Rematikku seperti yang kuderita ketika kanak-kanak juga kambuh kembali. Dengan putus asa aku berusaha menemukan jenis vitamin yang mungkin bisa menyembuhkan penyakitku.
Ahli naturopath yang kudatangi tidak memberiku vitamin. Dia malah menanyakan jenis makanan yang biasa aku konsumsi. Dia menduga aku menderita alergi makanan dan meru-jukkan ke klinik khusus alergi.
Betul, setelah aku berhenti makan kentang dan tomat dalam beberapa bulan, rematik dan nyeri ototku hilang. Namun, aku tetap harus menjalani terapi di dua klinik yang dikelola dokter yang telah melakukan riset khusus tentang dampak diet terhadap kesehatan. Klinik pertama menggunakan metode pengobatan Barat, dan yang satu lagi menggunakan metode pengobatan Timur.
Meskipun penyakit rematik kronik dan asma berhasil disembuhkan, masih ada sesuatu yang memicu terjadinya perubahan perilaku. Aku mendengar ada klinik yang mungkin bisa membantuku dan aku mencobanya.
Klinik ketiga ini menerapkan metode pengujian yang didasarkan pada prinsip akupunktur. Ternyata aku alergi terhadap sekelompok senyawa kimia yang disebut fenol dan salisilat, yang umumnya dijumpai di dalam buah-buahan, sayur-sayuran, rempah-rempah, bumbu, dan hampir semua jenis makanan dalam kemasan. Alergiku terhadap fenol cukup ekstrem, dua kali lebih tinggi dari tingkatan yang secara umum dikelompokkan sebagai tingkat alergi tinggi.
Selama setahun aku menjalani diet. Itu berarti selama itu aku hanya bisa makan makanan rumah yang terbuat dari biji-bijian.
Dalam beberapa minggu pertama menjalani diet, majikanku tampak terkejut. Aku mulai bicara dengan tenang dan sabar kepada para pengunjung, bahkan ketika mereka kesal kepadaku. Suasana hati tidak sering berubah-ubah, dan aku makin pandai bergaul dengan orang-orang. Aku juga menjadi lebih pendiam, lebih damai dan pemalu, dan tidak lagi ramai, maniak, atau agresif. Namun, meskipun penyakit-penyakit fisikku bisa diatasi, perasaan tidak nyaman yang tertanam sangat dalam dan ketidakmampuanku berkomunikasi yang ditimbulkannya, masih tetap bertahan.


Berbekal mesin ketik


Seorang teman berencana pergi ke Inggris. Aku memutuskan untuk juga pergi ke Inggris.
Aku baru saja merayakan ulangtahun yang ke-26. Seperti biasa, aku merasakan kesepian batin, di tempat yang bahkan lebih sepi. Setelah tiga bulan di Inggris barang-barang berhargaku tiba.
Aku pernah melihat lowongan untuk menjadi pemain drama komedi. Carol pun naik ke pang-gung. Penampilanku cukup baik. Salah seorang pemain juga memiliki kelompok komedi sendiri, dan dia memintaku untuk menjadi pelawak pendukung. Aku berhasil menjadi pemain komedi bayaran. Namun, menjadikan komedi sebagai keahlian yang dibayar membuatku menjadi lebih tidak berharga. Aku menelepon manajer pertunjukan dan meninggal pesan di mesin penja-wabnya bahwa secara mendadak aku memutuskan untuk pergi ke daratan Eropa.
Sepulang kembali ke Inggris, aku menemukan sebuah flat dan bekerja sebagai sekretaris rumah sakit besar di London. Di rumah aku memiliki sebuah mesin ketik murah dan mulai mengetik. Aku mulai menulis, diawali di pusat duniaku sejauh yang aku ingat. Malam hari menjadi semakin panjang, dan aku terus menulis, halaman demi halaman, menceritakan kembali setiap kejadian dalam hidupku, menatap jauh ke depan, dan membiarkan kata-kata meluncur melalui jari-jariku.
Kunjunganku ke perpustakaan rumah sakit menjadi semakin kerap. Di perpustakaan tersebut aku menenggelamkan diri di antara tumpukan buku tentang skizofrenia, dan dengan giat mencari di antara ribuan halaman sebuah istilah yang tepat yang bisa menjelaskan semua ini.
Tiba-tiba untuk pertama kalinya sejak ayahku mengucapkan kata autis empat tahun lalu, aku membaca lagi kata itu. Tulisan itu berkata, "Autisme tidak sama dengan skizofrenia." Jantungku seakan melompat dan aku gemetar. Barangkali inilah jawaban, atau awal dari jawaban yang aku cari. Aku mencari-cari buku tentang autisme.
Untuk pertama dan terakhir kalinya aku ingin menanyakan pendapat seseorang mengapa aku seperti ini. Aku memutuskan untuk membawa bukuku kepada seorang psikiater anak yang bisa membaca tulisanku dan menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Psikiater yang kucari kutemukan di rumah sakit.
Psikiater itu terkejut dan bertanya, buku apa yang aku bicarakan. Aku katakan kepadanya bahwa aku sering dikatakan gila, tolol, terganggu, atau aneh; dan ayahku mengatakan kepada orang-orang bahwa aku menderita autisme.
"Terus terang, cara Anda menyodorkan buku ini ke hadapanku menunjukkan tanda-tanda penderita autis," komentarnya.
Jawaban yang kuterima benar-benar memberi harapan. Sepertinya bukuku banyak menggambarkan hal-hal yang secara khusus sering teramati pada anak-anak penderita autis, meskipun jelas bahwa aku bisa mengatasi semua kesulitanku lebih baik daripada penderita autis lain. Aku dianjurkan untuk mengirimkan buku tersebut ke sebuah penerbit. Saran itu akhirnya kuterima dan kuturuti.



3

Mulai menggubah lagu
Umurku 12 tahun. Semakin bertambah umurku,semakin tampak bahwa aku punya masalah dalam berkomunikasi. Jika aku tidak tahu tentang sesuatu, aku berpura-pura tahu. Jika aku harus bertanya, aku melakukannya seolah-olah aku bertanya pada udara. Aku berpendapat bahwa bertanya kepada seseorang lebih merepotkan dan nilainya tidak sepadan dengan jawabannya.
Aku mengembangkan berbagai metode untuk mengatasi persoalan ini. Jika di sekolah, aku akan berjalan di depan seseorang untuk menarik perhatiannya, dan kemudian mulai bicara tentang sesuatu. Aku harus tahu bahwa mereka mendengarkanku sehingga biasanya aku akan mengawali setiap kalimat dengan "Hai," atau "Kamu tahu tidak", dan mengakhirinya dengan, "Kamu tahu 'kan?", "Benar bukan?", atau "Setuju?". Hal serupa juga terjadi di rumah.
Di usiaku ini, ibu dan kakakku memulai model kampanye baru, yaitu mengejekku secara sis-tematis. Mereka juga menciptakan nama baru untukku, "Si Kosong". Kakakku juga sering mendekatkan wajahnya ke wajahku, menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan seperti yang biasa kulakukan, dan berkata, "Gila, gila, kosong, kosong." Pendekatan wajah ini sangat menggangguku, juga kata-katanya. Kakak dan ibuku berhasil memancing reaksiku. Aku berteriak, "Aku tidak gila!", sampai akhirnya aku benar-benar menyerah.
Ibu menginginkan agar aku sekolah di sekolah khusus perempuan. Aku bersikeras masuk di sekolah umum atau tidak sekolah. Akhirnya, aku masuk di sekolah umum. Ini adalah kesempatan terakhirku. Jika aku bermasalah lagi, aku akan dikirim ke panti penitipan anak.
Di sekolah hal-hal aneh sering terjadi. Di siang hari aku pernah bermimpi dan isi mimpiku sama dengan yang terjadi saat itu. Kemampuan ini menakjubkan teman-teman ibuku. Aku pun di-terima untuk tinggal di rumah mereka. Aku diajari cara makan yang benar dan dibawa bersama putrinya ke restoran. Aku belajar meniru mereka seperti layaknya aktris tenar.
Satu-satunya yang tidak dapat kupelajari adalah bagaimana merasakan. Di antaranya rasa dipeluk dan memeluk, seperti yang dilakukan ibu Robyn, temanku. Aku katakan padanya bahwa pelukan menyakitkanku. Pertama kali dipeluk kepalaku seperti berputar. Aku merasa seperti mau pingsan.
Suatu saat ibuku menyewa sebuah piano. Begitu aku melihat piano tersebut, dalam sekejap aku sudah duduk di depan piano. Dalam beberapa menit aku sudah mengetuk-ngetuk beberapa tangga nada yang aku tahu. Sesaat kemudian, aku mulai menciptakan lagu sendiri dan memainkannya dengan lancar.
Aku berhasil menggubah sebuah lagu waltz klasik lengkap dengan melodi dan pengiringnya. Namun, ibuku mengatakan, "Itu lagu karya Beethoven." Kalimat itu diucapkannya dengan maksud menghina, tetapi dia tidak pernah tahu bahwa kata-katanya merupakan pujian bagiku.
Di sekolah, anak-anak mulai mengolok-olokku. Seperti biasa, aku bereaksi secara keras meskipun kali ini lawan-lawanku anak laki-laki. Ibuku, yang merasa kasihan, memberiku kesempatan untuk pindah ke sekolah lain.
Di sekolah yang terakhir, ada seorang ibu guru yang menganggapku murid pandai, lucu, dan menyenangkan saat diajar. Di akhir semester, aku menyerahkan sebuah karya tulis paling hebat yang pernah diterima guru-guru di sekolah menengah. Topiknya tentang perlakuan terhadap orang kulit hitam di Amerika pada tahun 1960-an. Sepanjang masa SMA, itulah keberhasilanku terbesar, yang dipicu oleh keinginanku untuk mendapatkan pujian dari ibu guruku.
Taktik terapi diubah
Ketika usiaku 15 tahun, ibu menganggapku siap bekerja. Aku memulai pekerjaan purna-waktuku yang pertama sebagai tukang jahit. Tapi, aku diberhentikan tepat tiga hari kemudian lantaran aku salah mengerjakannya. Kerugian yang diderita perusahaan itu mencapai jutaan rupiah karena pakaiannya terbuat dari bahan berbulu yang mahal.
Selanjutnya, aku bekerja sebagai pelayan di sebuah pasar swalayan. Tugasku mengatur barang-barang. Aku menyukai pekerjaanku, tetapi tidak suka berhubungan dengan orang-orang. Aku sering tidak memedulikan pengunjung yang meminta bantuanku. Kalau pun aku bersedia, aku kerap melakukannya dengan kesal, sehingga pengunjung mengeluh kepada pihak manajemen soal aku. Masalah lain yang kuhadapi adalah caraku bicara.
Aku dipanggil ke kantor. Asisten manajer menyatakan aku dimutasi ke gudang.
Di luar pekerjaan, aku sudah menutup diri dari orang-orang yang kukenal. Aku mulai bermain ski es, aktivitas yang memberiku kebebasan dan keindahan yang besar. Dari sini aku mengenal Garry. Perkenalanku ini menyeretku untuk hidup bersama dengan dia dan kehidupan yang menyiksa batinku. Begitu pula ketika meninggalkan Garry dan menumpang di rumah saudara perempuannya. Perlakuan saudara perempuan Garry sama dengan Garry. Pun tak beda dengan Chris yang tinggal bersamaku di flat yang kusewa di kemudian hari. Suatu hari Chris berkata bahwa dia akan menghabiskan akhir pekan di luar rumah. Aku panik.
Kepergian Chris memunculkan kembali perasaan diabaikan seperti yang kurasakan saat kakekku meninggal. Aku pun harus menemui Mary, ahli jiwa yang mampu melihat gadis kecil yang ketakutan di dalam diriku, gadis kecil yang berusaha untuk keluar. Aku menemui Mary dua kali seminggu selama tiga minggu. Lalu, diperpanjang menjadi beberapa bulan dan diperpanjang lagi menjadi beberapa tahun.
Setelah berbagai cara ditempuhnya belum memperlihatkan hasil, Mary akhirnya mengubah taktik. Sepertinya dia menemukan bahwa masalah yang kuhadapi pada dasarnya lebih bersifat sosial, bukan sekadar masalah kejiwaan. Kami mulai bicara tentang masa depan. Dia bertanya soal cita-citaku. Dengan menantang, aku menjawab, "Aku ingin menjadi seorang psikiater seperti Anda." Mary membuatku percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin, dan sampai saat itu, aku tidak pernah memiliki cita-cita yang terlalu tinggi.
Sekarang usiaku 18 tahun. Aku memutuskan untuk kembali ke sekolah. Aku merasa, jika aku bisa memperoleh ijazah, aku bisa bekerja di bank. Orang-orang di bank memakai seragam. Orang-orang berseragam dihormati. Aku ingin dihormati. Oleh karena itu aku ingin bekerja di bank.
Chris meninggalkanku. Namun aku berhasil menggapai kedua keinginanku. Aku bisa mulai sekolah. Untuk membiayai sekolah aku bekerja sebagai petugas kebersihan. Hampir setiap malam sepulang sekolah aku bersepeda ke tempat kerjaku di sebuah gerai makanan cepat saji. Aku memakan sisa-sisa makanan yang ditinggalkan pengunjung setelah toko tutup. Makanan yang diberikan Robyn merupakan satu-satunya makanan lain yang bisa kumakan.
Aku lulus ujian dengan nilai mulai dari rata-rata hingga di atas rata-rata. Aku pun bisa mengenakan seragam yang kuimpikan dan meraih posisi sebagai teller bank. Namun, aku tidak lagi percaya bahwa seragam bisa membawa perasaan hormat, seperti yang aku harapkan ketika aku masih seorang pekerja pabrik.
Nilai-nilaiku di SMA memungkinkan aku masuk ke universitas. Aku bisa memperoleh uang saku yang diberikan kepada mereka yang masuk perguruan tinggi. Aku memilih jurusan seni dan pada tahun kedua aku pindah ke jurusan sosial masyarakat.
Dengan tunjangan dibayarkan enam bulan setelah kuliah dimulai, aku membeli sebuah piano tua. Dengan cepat aku mulai membuat lagu. Aku bisa menirukan lagu-lagu gubahan orang lain dengan mudah, tapi aku belajar untuk benar-benar mengungkapkan perasaanku melalui lagu ciptaanku dan memainkan musikku sendiri.
Melalui musikku, aku mulai lebih mengenali dan mengungkapkan diriku yang sebenarnya. Musikku menggambarkan hal-hal yang kucintai, tentang angin dan hujan, tentang kebebasan dan harapan, tentang kebahagiaan di dalam kesederhanaan, tentang kemenangan di atas kebingungan.
Teror malam hari mulai muncul lagi. Aku bangun dan pergi ke kamar mandi dalam keadaan setengah bermimpi. Aku menemui beberapa dokter yang menanganiku saat aku masih kanak-kanak. Aku ingin mengetahui apa yang tertulis di dalam catatan medisku. Terakhir, aku menemui seorang bibi yang secara teratur berkunjung ke rumah saat aku masih kanak-kanak.
Ketika kutanyakan penyebab semua kelainanku - penolakan untuk bicara dengan orang, keengganan untuk didekati, kesibukanku di dalam dunia yang tak terjangkau di dalam pikiranku - bibi itu menjawab, "Ibumulah penyebab semuanya."
Jawaban itu membuatku meringkuk di rumah seperti bola dan menangis selama tiga hari.

2

Masuk kelas khusus

Sebelum Carol muncul dalam diriku, aku masuk sekolah khusus. Aku dianggap pintar, padahal aku sering tidak mengerti apa yang dikatakan orang kepadaku. Daripada bicara dengan orang lain, aku lebih suka menirukan mereka, atau bicara tanpa henti. Aku juga tidak suka jika seseorang mendekatiku. Aku akan bergidik kemudian menjauh.
Kakakku, yang makin lama makin membenciku, menyebut aku penderita spastik. Aku meniru tingkah lakunya yang menjijikkan. Plak! Aku belajar untuk tidak bereaksi sama sekali.
Begitu sekolah, di kelas aku tidak keberatan kalau harus menggambar, tetapi aku benci kalau harus menyatukan benda-benda kecil untuk membentuk manusia atau benda serupa. Aku akan menghabiskan waktuku dengan membuat dunia-dunia kecil, penuh dengan benda-benda kecil warna-warni, benda-benda lembut, dan benda-benda lain yang bisa aku langkahi atau panjat, kalau aku bisa turun ke tempat itu. Aku akan menempatkan wajahku sejajar dengan hasil karyaku dan menatap ke dalam seperti seekor kucing mengintip ke dalam lubang tikus.
Aku tidak pernah suka duduk di atas kursi. Aku memiliki kaki yang tidak bisa diam yang mem-buatku tidak bisa duduk tenang. Aku suka menyentuh Bumi. Semakin besar bagian tubuhku yang menyentuh Bumi, semakin baik.
Setelah menyelesaikan belajar di sekolah itu, aku mulai menjadi Carol. Carol berbicara dengan orang banyak. Aku belajar untuk berbicara dengan orang lain.
Berikutnya aku sekolah di SD untuk anak normal dan pada masa yang sama aku juga ikut sekolah balet. Namun, aku hanya menari sampai berusia tujuh tahun. Aku mulai mahir melakukan apa saja yang diperintahkan orang karena orang menyukai hal ini, dan orang-orang menyukai Carol.
Setelah seminggu berada di SD, bersama empat orang murid lain aku ditempatkan di kelas khusus yang disebut "Kelas Anak Desa". Dari waktu ke waktu, beberapa dari kami pergi ke ruang konsultasi jiwa dan bimbingan.
Kemajuanku di sekolah tidak terlalu buruk. Aku dengan cepat belajar huruf. Aku juga belajar kata-kata. Aku pandai membaca, tetapi aku hanya membaca untuk mendengarkan suaraku sendiri.


Gangguan malam hari

Ketika aku berumur enam tahun, adik laki-lakiku, Tom, lahir. Begitu ia berusia dua tahun, dia menyukai permainan yang kami lakukan, memutar-mutarkan tubuh seperti gasing, jatuh ke tanah, dan mengamati bagaimana dunia berputar. Dia senang melompat-lompat denganku di semua tempat tidur yang ada di rumah. Kadang-kadang kami menuruni tangga dengan kepala di bawah, membiarkan kepala membentur setiap anak tangga, sampai kami membentur lantai.
Pertempuran antara ayah dan ibuku terus berlangsung sampai usiaku delapan tahun. Rumah kami dipenuhi suara dengungan orang-orang mabuk yang saling mengumpat.
Aku selalu bisa menerima kekejaman ibu pada diriku. Sepertinya, itu tidak terlalu berarti. Yang menjadi korban cuma tubuhku. Semua hal yang bersifat ekstrem tersebut menjadi satu-satunya sensasi fisik yang bisa kurasakan tanpa merasa sakit. Kelembutan, kebaikan hati, dan kasih sayang malah membuatku takut dan merasa tidak nyaman.
Hanya ada satu kegiatan yang bisa aku lakukan bersama ibu: bermain scrabble. Kukira, permainan itu cukup baik untuk menambah perbendaharaan kata yang kumiliki, kata-kata yang terdengar bagus, kata-kata yang kuucapkan berulang-ulang, kata-kata yang terkait dengan berbagai jenis benda. Aku juga biasa membaca.
Aku bisa membaca novel wajib yang harus dibaca di sekolah, tetapi aku tidak bisa memahami isi buku tersebut. Seperti orang yang belajar membaca cepat, aku hanya akan membaca kata-kata penting di dalam setiap kalimat, dan mencoba membiarkan sensasi buku tersebut membasuh diriku. Namun, aku mampu memindai dan memahami nama-nama beberapa tokoh dan beberapa peristiwa yang dialami tokoh-tokoh tersebut.
Di rumah aku sering menghadapi gangguan di malam hari. Aku berjalan sambil tidur dan terbangun di tempat lain. Aku jadi benar-benar takut tidur. Aku menunggu sampai orang lain tidur, lalu aku mengendap-endap ke kamar ibuku, masuk ke kolong tempat tidur dan diam berbaring kaku. Aku terlalu takut, bahkan untuk bernapas. Air mata mengalir melalui pipiku.