Tuesday, August 24, 2004

2

Masuk kelas khusus

Sebelum Carol muncul dalam diriku, aku masuk sekolah khusus. Aku dianggap pintar, padahal aku sering tidak mengerti apa yang dikatakan orang kepadaku. Daripada bicara dengan orang lain, aku lebih suka menirukan mereka, atau bicara tanpa henti. Aku juga tidak suka jika seseorang mendekatiku. Aku akan bergidik kemudian menjauh.
Kakakku, yang makin lama makin membenciku, menyebut aku penderita spastik. Aku meniru tingkah lakunya yang menjijikkan. Plak! Aku belajar untuk tidak bereaksi sama sekali.
Begitu sekolah, di kelas aku tidak keberatan kalau harus menggambar, tetapi aku benci kalau harus menyatukan benda-benda kecil untuk membentuk manusia atau benda serupa. Aku akan menghabiskan waktuku dengan membuat dunia-dunia kecil, penuh dengan benda-benda kecil warna-warni, benda-benda lembut, dan benda-benda lain yang bisa aku langkahi atau panjat, kalau aku bisa turun ke tempat itu. Aku akan menempatkan wajahku sejajar dengan hasil karyaku dan menatap ke dalam seperti seekor kucing mengintip ke dalam lubang tikus.
Aku tidak pernah suka duduk di atas kursi. Aku memiliki kaki yang tidak bisa diam yang mem-buatku tidak bisa duduk tenang. Aku suka menyentuh Bumi. Semakin besar bagian tubuhku yang menyentuh Bumi, semakin baik.
Setelah menyelesaikan belajar di sekolah itu, aku mulai menjadi Carol. Carol berbicara dengan orang banyak. Aku belajar untuk berbicara dengan orang lain.
Berikutnya aku sekolah di SD untuk anak normal dan pada masa yang sama aku juga ikut sekolah balet. Namun, aku hanya menari sampai berusia tujuh tahun. Aku mulai mahir melakukan apa saja yang diperintahkan orang karena orang menyukai hal ini, dan orang-orang menyukai Carol.
Setelah seminggu berada di SD, bersama empat orang murid lain aku ditempatkan di kelas khusus yang disebut "Kelas Anak Desa". Dari waktu ke waktu, beberapa dari kami pergi ke ruang konsultasi jiwa dan bimbingan.
Kemajuanku di sekolah tidak terlalu buruk. Aku dengan cepat belajar huruf. Aku juga belajar kata-kata. Aku pandai membaca, tetapi aku hanya membaca untuk mendengarkan suaraku sendiri.


Gangguan malam hari

Ketika aku berumur enam tahun, adik laki-lakiku, Tom, lahir. Begitu ia berusia dua tahun, dia menyukai permainan yang kami lakukan, memutar-mutarkan tubuh seperti gasing, jatuh ke tanah, dan mengamati bagaimana dunia berputar. Dia senang melompat-lompat denganku di semua tempat tidur yang ada di rumah. Kadang-kadang kami menuruni tangga dengan kepala di bawah, membiarkan kepala membentur setiap anak tangga, sampai kami membentur lantai.
Pertempuran antara ayah dan ibuku terus berlangsung sampai usiaku delapan tahun. Rumah kami dipenuhi suara dengungan orang-orang mabuk yang saling mengumpat.
Aku selalu bisa menerima kekejaman ibu pada diriku. Sepertinya, itu tidak terlalu berarti. Yang menjadi korban cuma tubuhku. Semua hal yang bersifat ekstrem tersebut menjadi satu-satunya sensasi fisik yang bisa kurasakan tanpa merasa sakit. Kelembutan, kebaikan hati, dan kasih sayang malah membuatku takut dan merasa tidak nyaman.
Hanya ada satu kegiatan yang bisa aku lakukan bersama ibu: bermain scrabble. Kukira, permainan itu cukup baik untuk menambah perbendaharaan kata yang kumiliki, kata-kata yang terdengar bagus, kata-kata yang kuucapkan berulang-ulang, kata-kata yang terkait dengan berbagai jenis benda. Aku juga biasa membaca.
Aku bisa membaca novel wajib yang harus dibaca di sekolah, tetapi aku tidak bisa memahami isi buku tersebut. Seperti orang yang belajar membaca cepat, aku hanya akan membaca kata-kata penting di dalam setiap kalimat, dan mencoba membiarkan sensasi buku tersebut membasuh diriku. Namun, aku mampu memindai dan memahami nama-nama beberapa tokoh dan beberapa peristiwa yang dialami tokoh-tokoh tersebut.
Di rumah aku sering menghadapi gangguan di malam hari. Aku berjalan sambil tidur dan terbangun di tempat lain. Aku jadi benar-benar takut tidur. Aku menunggu sampai orang lain tidur, lalu aku mengendap-endap ke kamar ibuku, masuk ke kolong tempat tidur dan diam berbaring kaku. Aku terlalu takut, bahkan untuk bernapas. Air mata mengalir melalui pipiku.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home