Tuesday, August 24, 2004

3

Mulai menggubah lagu
Umurku 12 tahun. Semakin bertambah umurku,semakin tampak bahwa aku punya masalah dalam berkomunikasi. Jika aku tidak tahu tentang sesuatu, aku berpura-pura tahu. Jika aku harus bertanya, aku melakukannya seolah-olah aku bertanya pada udara. Aku berpendapat bahwa bertanya kepada seseorang lebih merepotkan dan nilainya tidak sepadan dengan jawabannya.
Aku mengembangkan berbagai metode untuk mengatasi persoalan ini. Jika di sekolah, aku akan berjalan di depan seseorang untuk menarik perhatiannya, dan kemudian mulai bicara tentang sesuatu. Aku harus tahu bahwa mereka mendengarkanku sehingga biasanya aku akan mengawali setiap kalimat dengan "Hai," atau "Kamu tahu tidak", dan mengakhirinya dengan, "Kamu tahu 'kan?", "Benar bukan?", atau "Setuju?". Hal serupa juga terjadi di rumah.
Di usiaku ini, ibu dan kakakku memulai model kampanye baru, yaitu mengejekku secara sis-tematis. Mereka juga menciptakan nama baru untukku, "Si Kosong". Kakakku juga sering mendekatkan wajahnya ke wajahku, menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan seperti yang biasa kulakukan, dan berkata, "Gila, gila, kosong, kosong." Pendekatan wajah ini sangat menggangguku, juga kata-katanya. Kakak dan ibuku berhasil memancing reaksiku. Aku berteriak, "Aku tidak gila!", sampai akhirnya aku benar-benar menyerah.
Ibu menginginkan agar aku sekolah di sekolah khusus perempuan. Aku bersikeras masuk di sekolah umum atau tidak sekolah. Akhirnya, aku masuk di sekolah umum. Ini adalah kesempatan terakhirku. Jika aku bermasalah lagi, aku akan dikirim ke panti penitipan anak.
Di sekolah hal-hal aneh sering terjadi. Di siang hari aku pernah bermimpi dan isi mimpiku sama dengan yang terjadi saat itu. Kemampuan ini menakjubkan teman-teman ibuku. Aku pun di-terima untuk tinggal di rumah mereka. Aku diajari cara makan yang benar dan dibawa bersama putrinya ke restoran. Aku belajar meniru mereka seperti layaknya aktris tenar.
Satu-satunya yang tidak dapat kupelajari adalah bagaimana merasakan. Di antaranya rasa dipeluk dan memeluk, seperti yang dilakukan ibu Robyn, temanku. Aku katakan padanya bahwa pelukan menyakitkanku. Pertama kali dipeluk kepalaku seperti berputar. Aku merasa seperti mau pingsan.
Suatu saat ibuku menyewa sebuah piano. Begitu aku melihat piano tersebut, dalam sekejap aku sudah duduk di depan piano. Dalam beberapa menit aku sudah mengetuk-ngetuk beberapa tangga nada yang aku tahu. Sesaat kemudian, aku mulai menciptakan lagu sendiri dan memainkannya dengan lancar.
Aku berhasil menggubah sebuah lagu waltz klasik lengkap dengan melodi dan pengiringnya. Namun, ibuku mengatakan, "Itu lagu karya Beethoven." Kalimat itu diucapkannya dengan maksud menghina, tetapi dia tidak pernah tahu bahwa kata-katanya merupakan pujian bagiku.
Di sekolah, anak-anak mulai mengolok-olokku. Seperti biasa, aku bereaksi secara keras meskipun kali ini lawan-lawanku anak laki-laki. Ibuku, yang merasa kasihan, memberiku kesempatan untuk pindah ke sekolah lain.
Di sekolah yang terakhir, ada seorang ibu guru yang menganggapku murid pandai, lucu, dan menyenangkan saat diajar. Di akhir semester, aku menyerahkan sebuah karya tulis paling hebat yang pernah diterima guru-guru di sekolah menengah. Topiknya tentang perlakuan terhadap orang kulit hitam di Amerika pada tahun 1960-an. Sepanjang masa SMA, itulah keberhasilanku terbesar, yang dipicu oleh keinginanku untuk mendapatkan pujian dari ibu guruku.
Taktik terapi diubah
Ketika usiaku 15 tahun, ibu menganggapku siap bekerja. Aku memulai pekerjaan purna-waktuku yang pertama sebagai tukang jahit. Tapi, aku diberhentikan tepat tiga hari kemudian lantaran aku salah mengerjakannya. Kerugian yang diderita perusahaan itu mencapai jutaan rupiah karena pakaiannya terbuat dari bahan berbulu yang mahal.
Selanjutnya, aku bekerja sebagai pelayan di sebuah pasar swalayan. Tugasku mengatur barang-barang. Aku menyukai pekerjaanku, tetapi tidak suka berhubungan dengan orang-orang. Aku sering tidak memedulikan pengunjung yang meminta bantuanku. Kalau pun aku bersedia, aku kerap melakukannya dengan kesal, sehingga pengunjung mengeluh kepada pihak manajemen soal aku. Masalah lain yang kuhadapi adalah caraku bicara.
Aku dipanggil ke kantor. Asisten manajer menyatakan aku dimutasi ke gudang.
Di luar pekerjaan, aku sudah menutup diri dari orang-orang yang kukenal. Aku mulai bermain ski es, aktivitas yang memberiku kebebasan dan keindahan yang besar. Dari sini aku mengenal Garry. Perkenalanku ini menyeretku untuk hidup bersama dengan dia dan kehidupan yang menyiksa batinku. Begitu pula ketika meninggalkan Garry dan menumpang di rumah saudara perempuannya. Perlakuan saudara perempuan Garry sama dengan Garry. Pun tak beda dengan Chris yang tinggal bersamaku di flat yang kusewa di kemudian hari. Suatu hari Chris berkata bahwa dia akan menghabiskan akhir pekan di luar rumah. Aku panik.
Kepergian Chris memunculkan kembali perasaan diabaikan seperti yang kurasakan saat kakekku meninggal. Aku pun harus menemui Mary, ahli jiwa yang mampu melihat gadis kecil yang ketakutan di dalam diriku, gadis kecil yang berusaha untuk keluar. Aku menemui Mary dua kali seminggu selama tiga minggu. Lalu, diperpanjang menjadi beberapa bulan dan diperpanjang lagi menjadi beberapa tahun.
Setelah berbagai cara ditempuhnya belum memperlihatkan hasil, Mary akhirnya mengubah taktik. Sepertinya dia menemukan bahwa masalah yang kuhadapi pada dasarnya lebih bersifat sosial, bukan sekadar masalah kejiwaan. Kami mulai bicara tentang masa depan. Dia bertanya soal cita-citaku. Dengan menantang, aku menjawab, "Aku ingin menjadi seorang psikiater seperti Anda." Mary membuatku percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin, dan sampai saat itu, aku tidak pernah memiliki cita-cita yang terlalu tinggi.
Sekarang usiaku 18 tahun. Aku memutuskan untuk kembali ke sekolah. Aku merasa, jika aku bisa memperoleh ijazah, aku bisa bekerja di bank. Orang-orang di bank memakai seragam. Orang-orang berseragam dihormati. Aku ingin dihormati. Oleh karena itu aku ingin bekerja di bank.
Chris meninggalkanku. Namun aku berhasil menggapai kedua keinginanku. Aku bisa mulai sekolah. Untuk membiayai sekolah aku bekerja sebagai petugas kebersihan. Hampir setiap malam sepulang sekolah aku bersepeda ke tempat kerjaku di sebuah gerai makanan cepat saji. Aku memakan sisa-sisa makanan yang ditinggalkan pengunjung setelah toko tutup. Makanan yang diberikan Robyn merupakan satu-satunya makanan lain yang bisa kumakan.
Aku lulus ujian dengan nilai mulai dari rata-rata hingga di atas rata-rata. Aku pun bisa mengenakan seragam yang kuimpikan dan meraih posisi sebagai teller bank. Namun, aku tidak lagi percaya bahwa seragam bisa membawa perasaan hormat, seperti yang aku harapkan ketika aku masih seorang pekerja pabrik.
Nilai-nilaiku di SMA memungkinkan aku masuk ke universitas. Aku bisa memperoleh uang saku yang diberikan kepada mereka yang masuk perguruan tinggi. Aku memilih jurusan seni dan pada tahun kedua aku pindah ke jurusan sosial masyarakat.
Dengan tunjangan dibayarkan enam bulan setelah kuliah dimulai, aku membeli sebuah piano tua. Dengan cepat aku mulai membuat lagu. Aku bisa menirukan lagu-lagu gubahan orang lain dengan mudah, tapi aku belajar untuk benar-benar mengungkapkan perasaanku melalui lagu ciptaanku dan memainkan musikku sendiri.
Melalui musikku, aku mulai lebih mengenali dan mengungkapkan diriku yang sebenarnya. Musikku menggambarkan hal-hal yang kucintai, tentang angin dan hujan, tentang kebebasan dan harapan, tentang kebahagiaan di dalam kesederhanaan, tentang kemenangan di atas kebingungan.
Teror malam hari mulai muncul lagi. Aku bangun dan pergi ke kamar mandi dalam keadaan setengah bermimpi. Aku menemui beberapa dokter yang menanganiku saat aku masih kanak-kanak. Aku ingin mengetahui apa yang tertulis di dalam catatan medisku. Terakhir, aku menemui seorang bibi yang secara teratur berkunjung ke rumah saat aku masih kanak-kanak.
Ketika kutanyakan penyebab semua kelainanku - penolakan untuk bicara dengan orang, keengganan untuk didekati, kesibukanku di dalam dunia yang tak terjangkau di dalam pikiranku - bibi itu menjawab, "Ibumulah penyebab semuanya."
Jawaban itu membuatku meringkuk di rumah seperti bola dan menangis selama tiga hari.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home